Halaman

Sabtu, 20 Oktober 2012

tugas perkembangan peserta didik (makalah)


MAKALAH
PERKEMBANGAN FISIK, MOTORIK, SOSIOEMOSIAL
PADA MASA BAYI
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen Pengampu: Wahyu Kurniawati, S.Si.
logo upy.jpeg










Di susun Oleh :
1.      Sueli Asih                      (10144600033)
2.      Arum Pramistyasari      (10144600063)
3.      Heru Priyanto                (10144600062)
4.      Wahyu Saputra             (10144600038)


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis bias menyelesaikan makalah yang berjudul Perkembangan Fisik, Motorik,Kognitif dan Sosioemosional pada Masa Bayi”.
            Dalam penyusunan makalah ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan penulis. Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun tata bahasa. Tetapi walaupun demikian sebisa mungkin menyelesaikan makalah meskipun tersusun sangat sederhana.
            Kami menyadari tanpa kerja sama dosen penampu dan penulis serta beberapa kerabat yang memberi berbagai masukan yang bemanfaat bagi penulis demi tersusunnya makalah ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang tersebut di atas telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan saran demi kelancaran penyusunan makalah ini.
            Demikian semoga karya tulis kita dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Kami mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun.

Yogyakarta, 11  April 2011

Penulis








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………     i
KATA PENGANTAR ……………………………………………………   ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………..                 iii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………       1
A.    Latar Belakang Masalah ………………………………………………..   1
B.     Rumusan Masalah ……………………………………………………     1
C.     Tujuan Penulisan ……………………………………………………       1
D.    Manfaat Penulisan ……………………………………………………     1

BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………….      2
a.       Perkembangan Fisik pada Masa Bayi ………………………………….      2
b.      Perkembangan Motorik pada Masa Bayi …………………………………    9
c.       Perkembangan Kognitif pada Masa Bayi …………………………………   10
d.      Perkembangan Sosioemosional pada Masa Bayi …………………………      10

BAB III PENUTUP ………………………………………………………   13
a.       Kesimpulan …………………………………………………………..    13
b.      Saran ………………………………………………………………….  13

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………           14





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada masa ini sangat perlu diperhatikan perkembangannya, karena masa bayi adalah masa permulaan adanya pertumbuhan dan perkembangan di diri anak. Sebagai bayi yang baru lahir, bayi bukanlah organisme yang kepalanya kosong. Bayi memiliki beberapa refleks dasar, di antaranya menangis, menendang, dan berbatuk (coughing).
Bayi banyak tidur, kadang-kadang tersenyum walaupun makna senyum pertama bayi tidak seluruhnya jelas. Sebagai orang tua, kita harus bisa memahami yang terjadi pada anak kita. Dengan makan dan minum asi yang cukup akan selalu ada pertumbuhan. Bayi bisa merangkak dan kemudian berjalan. Dari satu langkah menjadi beribu-ribu langkah yang di mulai dengan langkah satu tunggal. Perkembangan sangat berperan pada masa ini, bayi akan mengalami perkembangan pada fisik, motorik, kognitif, dan emosionalnya. Sebagai orsng tua kita harus memperhatikan perkembangan itu.

B.     Rumusan Masalah
1.      Jelaskan tentang perkembangan fisik pada masa bayi?
2.      Jelaskan tentang perkembangan motorik pada masa bayi?
3.      Jelaskan tentang perkembangan kognitif pada masa bayi?
4.      Jelaskan tentang perkembangan sosioemosional pada masa bayi?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan tentang perkembangan fisik pada masa bayi.
2.      Menjelaskan tentang perkembangan motorik pada masa bayi.
3.      Menjelaskan tentang perkembangan kognitif pada masa bayi.
4.      Menjelaskan tentang perkembangan sosioemosional pada masa bayi.

D.    Manfaat Penulisan
1.      Untuk mengetahui tentang perkembangan fisik pada masa bayi.
2.      Untuk mengetahui tentang perkembangan motorik pada masa bayi.
3.      Untuk mengetahui tentang perkembangan kognitif pada masa bayi.
BAB II
   PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Fisik pada Masa Bayi
Perkembangan fisik bayi dalam tahun pertama kehidupannya sangatlah ekstensif. Pada saat lahir, bayi memiliki kepala yang sangat besar yang bergerak terus menerus ke kiri dan ke kanan dan seringkali tidak dapat dikendalikan, mereka juga memiliki refleks yang didominasi oleh gerakan-gerakan yang terus berkembang. Dalam rentang waktu 12 bulan, bayi-bayi dapat duduk di mana pun ia mau,berdiri, membungkuk, memanjat, dan berjalan. Selama tahun kedua, pertumbuhan melambat, tetapi pertumbuhan berlangsung cepat pada kegiatan-kegiatan berlari dan memanjat. Urutan perkembangan fisik bayi yaitu refleks bayi, urutan cephalocaudal dan proximodistal, tinggi dan berat, kemampuan melakukan gerakan motorik kasar dan gerakan motorik halus, otak, keadaan bayi, gizi, pelatihan buang air dan kesehatan.


1.      Refleks
Refleks mengatur gerakan-gerakan bayi yang baru lahir. Sifat refleks adalah otomatis dan berada di luar kendali bayi yang baru lahir. Refleks itu merupakan reaksi yang inheren terhadap rangsang tertentu dan memberi bayi-bayi kecil respons penyesuaian diri terhadap lingkungan mereka sebelum mereka memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak. Refleks menghisap adalah suatu contoh refleks yang muncul pada saat lahir lalu menghilang seiring dengan usia bayi. Refleks mengisap dan mencari menghilang setelah bayi berusia kira-kira 3 hingga 4 bulan. Refleks ini digantikan dengan oleh makan secara suka rela. Refleks mengisap dan mencari adalah upaya mempertahankan hidup bagi bayi karena dengan begitu dia dapat menemukan susu ibu untuk memperoleh makanan. Refleks moro adalah suatu respons tiba-tiba pada bayi yang baru lahir yang terjadi akibat suara atau gerakan yang mengejutkannya. Ketika dikagetkan, bayi yang baru lahir melengkungkan punggungnya, melemparkan kepalanya ke belakang, dan merentangkan lengan dan kakinya.
Beberapa refleks muncul pada bayi yang baru lahir misalnya berbatuk, mengejapkan mata,dan menguap akan tetap ada sepanjang hidupnya. Walaupun begitu, refleks lain akan menghilang beberapa bulan setelah kelahiran ketika fungsi otak semakin matang dan kendali atas beragam perilaku mulai berkembang. Gerakan beberapa refleks akhirnya digabungkan ke dalam beberapa tindakan yang lebih kompleks dan spontan. Satu contoh penting adalah refleks menggenggam, yang trjadi ketika sesuatu menyentuh telapak tangan bayi. Bayi merespons dengan cara menggenggam kuat. Pada akhir bulan ketiga, refleks menggenggam berkurang dan bayi memperlihatkan suatu genggaman yang lebih spontan, yang sering dihasilkan oleh rangsangan visual. Misalnya, ketika seorang bayi melihat suatu gerakan yang berputar di atas tempat tidurnya, ia akan meraih dan mencoba menggenggamnya. Ketika perkembangan motoriknya semakin lancar, bayi itu akan menggenggam benda-benda, menggunakannya secara hati-hati, dan mengamati benda-benda tersebut.

2.      Urutan Cephalocaudal dan Proximodistal
Pola cephalocaudal (cephalocaudal pattern) ialah urutan pertumbuhan di mana pertumbuhan terbesar selalu dimulai dari atas kepala dilanjutkan dengan pertumbuhan fisik mencakup yang besar, berat, serta perkembangan organ tubuh lainnya secara berangsur-angsur dari atas ke bawah (ke leher, bahu, batang tubuh tengah dan lain-lain). Pola yang sama terjadi di wilayah kepala, bagian atas kepala, mata dan otak bertumbuh lebih pesat dibandingkan dengan bagian bawah seperti rahang.
Pola proximodistal ialah urutan pertumbuhan di mana pertumbuhan dimulai pada bagian tengah tubuh lalu bergerak menujukaki dan tangan. Contohnya ialah kematangan awal kendali otot batang tubuh dan lengan dibandingkan dengan tangan dan jari.

3.      Tinggi dan Berat
Sembilan puluh lima persen dari semua bayi yang lahir purna waktu panjangnya antara 18 hingga 22 inci dan beratnya antara 5 hingga 10 pon. Setelah bayi menyesuaikan diri dengan cara mengisap, menelan, dan mencerna, mereka bertumbuh cepat dan memperoleh berat kira-kira 5 hingga 6 ons per minggu selama bulan pertama. Bayi bertumbuh kira-kira 1 inci per bulan selama tahun pertama, sehingga hampir 1 kali panjang hari pertama kelahiran mereka. Pada usia 2 tahun, berat bayi mencapai antara 26 hingga 32 pon akibat adanya kenaikan berat seperempat hingga setengah pon per bulan selam tahun kedua. Tinggi rata-rata bayi ialah antara 32 hingga 35 inci, yang hampir mencapai setengah tinggi dewasa mereka.

4.      Keterampilan Motorik Kasar dan Halus
Keterampilan motorik kasar meliputi kegiatan otot-otot besar seperti menggerakkan lengan dan berjalan. Keterampilan motorik halus meliputi gerakan-gerakan menyesuaikan secara lebih halus, seperti ketangkasan jari.
Keterampilan Motorik Kasar
Pada saat lahir, bayi tidak memiliki koordinasi dada atau lengan yang baik, tetapi pada bulan pertama bayi dapat mengangkat kepalanya dari posisi tengkurap. Pada usia 3 bulan bayi dapat mengangkat kepalanya, usia 3 sampai 4 bulan bayi dapat berguling dan usia 4 sampai 5 bulan dapat menompang sebagian berat badannya, di usia 7 bulan dapat merangkak tanpa bantuan orang lain.
Keterampilan Motorik Halus
Bayi mengalami kesulitan mengendalikan keterampilan motorik halus pada saat lahir, walaupun mereka memiliki banyak komponen penting kelak menjadi gerakan tangan, lengan, dan jari tangan yang terkoordinasi dengan baik (Rosenblith, 1992).

5.      Otak
Ketika bayi berjalan, berbicara, berlari, menggoyang-goyangkan mainan yang dapat berbunyi, tersenyum, dan menggerakkan dahi, perubahan dalam otaknya sedang berlangsung. Pada saat lahir, otak bayi yang baru lahir kira-kira 25 persen berat otak orang dewasanya, dan pada tahun kedua otak bayi yang baru lahir kira-kira 75 persen berat otak dewasanya.

6.      Keadaan Bayi
Para ahli perkembangan (developmentalist) telah membangun klasifikasi keadaan bayi (Berg & Berg, 1987; Brown,1964; Colombo, Moss,& Horowitz, 1989). Berikut adalah salah satu kemungkinan skema klasifikasi, yang menggambarkan tujuh keadaan bayi (Brown, 1964):
1.      Tidur nyenyak (deep sleep). Bayi berbaring tidak bergerak dengan mata tertutup, bernafas secara teratur, tidak membuat suara, dan tidak merespons terhadap rangsangan dari luar.
2.      Tidur teratur (regular sleep). Bayi sangat sedikit bergerak, bernafas dengan serak atau meliputi mendesah, dan pernafasan normal atau bergerak dari normal ke tidak teratur.
3.      Tidur terganggu (disturbed sleep). Ada sejumlah variabel gerakan, kelopak mata bayi tertutup tetapi dapat mengedip-ngedip, bernafas tidak teratur dan barangkali ada beberapa keluhan, isakan, dan nafas panjang.
4.      Mengantuk (drouesp). Masa bayi tertutup atau sebagian tertutup atau tampak berkaca-kaca, ada gerakan kecil, suara lebih teratur dibandingkan dengan tidur terganggu, dan beberapa suara peralihan dapat terjadi.
5.      Aktivitas waspada (alert activity). Ini adalah keadaan yang sering dilihat oleh orang tua sebagai bangun. Mata bayi terbuka dan bersinar. Bayi melakukan berbagai gerakan bebas, cerewet, dan kulitnya memerah. Mungkin ada pernafasan yang tidak teratur ketika bayi merasa tegang.
6.      Waspada dan terfokus (alert and focused). Jenis perhatian ini sering terlihat pada anak-anak yang lebih tua, tetapi kurang lazim pada bayi yang baru lahir. Mata anak terbuka dan bersinar. Suatu aktivitas motorik dapat terjadi, tetapi diintegrasikan sekitar aktivitas khusus. Keadaan waspada dan terfokus ini mungkin terjadi ketika memfokuskan perhatian pada bunyi atau rangsangan visual.
7.      Terfokus secara kaku (inflexibly focused). Dalam keadaan ini, bayi sedang bangun tetapi tidak beraksi terhadap rangsangan dari luar,contohnya menghisap dan menangis keras. Selama menangis keras, bayi menggelepar-gelepar, tetapi matanya tertutup ketika ia mulai menjerit-jerit.

7.      Gizi
Pentingnya energi yang memadai dan masukan gizi yang cukup untuk dikonsumsi bayi di dalam lingkungan yang saling menyanyangi dan mendukung selama masa pertumbuhan bayi. Makanan yang sangat penting untuk bayi adalah asi. Orang tua harus mengetahui bahwa bayi perlu mengkonsumsi 50 kalori per hari untuk setiap pon berat mereka lebih dari dua kali persyaratan yang diperlukan orang dewasa per pon.



8.      Latihan Buang Air 
Kemampuan untuk mengendalikan buang air bergantung pada kematangan otot dan pada motivasi yang mereka miliki. Anak-anak harus dapat mengendalikan otot mereka untuk buang air pada waktu yang tepat, dan mereka juga harus mau buang air di jamban atau pot dan di celana mereka.
a)      Konsep-konsep yang berkembang pada masa bayi:
1.      Konsep ruang
Kemampuan tentang kosep ini ditandai dengan kemampuannya untuk memperkirakan jarakn tentang objek yang dapat diraihnya.
2.      Konsep berat
Pada masa bayi belum tepat, benda-benda yang kecilpun sering dianggap ringan dan benda-benda yang besar dianggap berat.
3.      Konsep waktu
Bayi belum mampu memahami lamanya waktu.
4.      Konsep diri
Berkembang pada masa bayi adalah konsep dari fisik yang dilakukan dengan melihat fisiknya melalui kaca atau memegang bagian tubuh.
5.      Konsep peran seks
Pada akhir masa bayi, umumnya sudah memiliki konsep tentang apa yang dilakukan peran seks laki-laki dan perempuan.
6.      Konsep social
Bayi mampu menangkap ekspresi emosi melalui wajah.
7.      Konsep keindahan
Di mulai usia 6 bulan, umumnya dapat menyatakan “bagus” untuk hal-hal yang bagus seperi warna atau music.
8.      Konsep kelucuan
Mulai usia 4 bulan, mampu menagkap hal-hal yang lucu. Menyukai permainan suara dan ocehan, ceburan air mandi. Usia 6 bulan menyukai menjatuhkan benda-benda yang diberikan kepadanya. Usia 1 tahun suka  membuat wajah yang lucu. Usia 2 tahun menyukai ketangkasan sendiri.

b)     Perkembangan Emosi, meliputi:
1.      Kemarahan, menjadi marah jika ada campur tangan terhadap gerakan mencoba-cobanya,menghalangi keinginan. Bentuk kemarahannya dalam bentuk menjerit, meronta-ronta, menendang dan lainya.
2.      Ketakutan, bila mendengar suara keras dari orang atau benda, situasi asing, ruang gelap, ketinggian, binatang. Diekspresikan melalui perilaku menjatuhkan diri dari pasangan yang menakutkan, merengek, menangis dan menahan nafas.
3.      Rasa ingin tahu, ditujukan pada mainan atau barang baru dan tidak biasa. Diekspresikan melalui wajah mengangkat otot muka, membuka mulut, dan menjuurkan wajah kemudian akan memegang barang tersebut.
4.      Kegembiraan yaitu kesenangan fisik, misalnya pada bulan kedua bayi akan senang bila ada yang mengajak bercanda, menggelitik, mengamati, dan memperhatikanya. Ditunjukan dengan tertawa, tersenyum, dan menggerakan tangan serta kakinya.
5.      Afeksi, setiap orang mengajaknya bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya. Biasanya bayi mengungkapkan afeksinya dengan memeluk, menepuk, dan mencium baranng orang yang dicintai.

c)      Ciri-ciri emosi
1.      Emosi bayi sangat berbeda dari emosi pada periode perkembanngan lainnya.
2.      Emosi bayi seringkali disertai dengan perilaku habit dari pada rangsang yang menimbulkannyanya, terutama emosi  marah atau takut (mudah  berubah apabila perhatiannya dialihkan).
3.      Lebih mudah untuk dibiasakan dibandingkan pada periode lain.
4.      Terbatasnya kemampuan intelektual bayi sehingga mudah dan cepat bereaksi terhadap rangsang yang pada waktu lalu membangkitkan reaksi emosionalnya.
5.      Emosi dibedakan menjadi emosi menyenangkan dan tidak menyenagkan, yang tergantung pada kondisi fisik dan lingkungannya.




d)     Emosi berkembang melalui beberapa hal:
1.      Kematangan, perkembangan kelenjar endokrin memiliki peranan penting dalam kematangan perilaku emosional dan kelenjar adrenalin yang memainkan peranan utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir.
2.      Belajar, proses belajar lebih penting karena factor ini lebih mudah untuk dikendalikan juga dapat mehilangkan pola reaksi emosional yang tidak diinginkan sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang tertanam kuat.

e)      Perkembangan bicara
Menurut Berry dan Eisenson (dalam Tamarsyah, 1996) ada beberapa tahapan perkembangan bicara:
1.      Refleks vokaliasi (reflective vocalitation)
Tangisan berlangsung pada saat lahir sampai umur dua minggu, yng hanya mampu mengeluarkan suara reflex dan belum dapat membedakan meskipun rangsang yang diterima berbeda. Tangisan ini bermakna, sehingga dapat dibedakan antara tangis sakit, lapar, dan manja.
2.      Babbling (meraban)
Ditandai dengan kemampuan membuat berbagai bunyi yang berlangsung pada usia dua sampai tiga bulan. Dalam Murniati Sulastri (1986) dikatakan bahwa pada tahap ini merupakan proses melatih alat-alat bicara seperti bibir, lidah, tenggorokan, rahang.
3.      Lalling (laling)
Proses terjadinya kontak antara anak dengan orang lain di sekitarnya. Misalnya tersenyum atau perasaan takut. Pada saat ini anak sudah mulai memperhatikan orang lain yang mengajak bicara dan fungsi pendengaran sangat berperan penting.
4.      Echollia
Proses bicara dimana anak mulai menirukan ucapan orang lain yan ada disekitarnya, meskipun belun memahaminya.




5.      True Speech (bicara sebenarnya)
Anak dapat bicara dengan betul, maksudnya yang dikehendaki anak dengan benda atau hal-hal yang dimau anak sudah cocok. Misal, anak mengucapkan “oti” artinya anak minta roti. Biasanya terjadi pada anak usia satu tahun.

      
B.     Perkembangan Motorik pada Masa Bayi
Keterampilan Motorik Kasar
Pada saat lahir, bayi tidak memiliki koordinasi dada atau lengan yang baik, tetapi  pada bulan pertama bayi dapat mengangkat kepalanya dari posisi mengkurap. Pada usia 3 bulan, bayi dapat menyangga dadanya dengan menggunakan lengannya untuk menopang pada saat dia sedang tengkurap. Pada saat usia 3 hingga 4 bulan, bayi dapat berguling dan pada usia 4 hingga 5 bulan mereka dapat menopang, sebagian berat badannya dengan kaki mereka. Pada usia kira-kira 6 bulan bayi bisa duduk tanpa dukungan, dan pada usia 7 bulan mereka dapat merangkak dan berdiri tanpa dukungan. Pada usia kira-kira 8 bulan, bayi dapat menyangga tubuh mereka hingga ke posisi berdiri, pada usia 10 hingga 11 bulan mereka dapat berjalan menggunakan kursi atau meja sebagai alat bantu dan pada usia 12 hingga 13 bulan bayi pada umumnya dapat berjalan tanpa bantuan.
Pada tahun kedua, anak-anak yang baru belajar berjalan semakin terampil dalam sistem motorik dan gerakan mereka. Mereka tidak lagi puas ditempatkan di tempat anak-anak kecil bermain dan ingin bergerak ke seluruh tempat. Pada usia 18 hingga 24 bulan, anak-anak yang baru belajar berjalan dapat berjalan dengan cepat atau berlari dengan susah-payah untuk suatu jarak yang pendek, menyeimbangkan kaki mereka dalam posisi berjongkok sambil bermain dengan benda-benda di atas lantai, berjalan mundur tanpa kehilangan keseimbangan, berdiri dan menendang bola tanpa terjatuh, berdiri dan melemparkan bola, dan melompat di tempat.

Keterampilan Motorik Halus
Bayi mengalami kesulitan mengendalikan keterampilan motorik halus pada saat lahir, walaupun mereka memiliki banyak komponen penting yang kelak menjadi gerakan lengan, tangan, dan jari tangan yang terorganisasi dengan baik (Rosenblith, 1992). Perkembangan perilaku seperti meraih dan menggenggam semakin baik selama 2 tahun pertama kehidupan. Pada mulanya bayi hanya memperlihatkan gerakan bahu dan siku yang kasar, tetapi kemudian memperlihatkan gerakan pergelangan tangan, perputaran tangan, dan koordinasi ibu jari dan jari telunjuk tangan. Kematangan koordinasi tangan-mata sepanjang 2 tahun pertama kehidupan tercermin dalam peningkatan keterampilan motorik halus.

C.    Perkembangan Kognitif pada Masa Bayi
Suatu pemahaman baru tentang perkembangan kognitif bayi mulai berkembang. Selama bertahun-tahun, gagasan Piaget begitu dikenal dan dihargai secara luas sehingga banyak psikolog berkesimpulan: Bayi manusia melampui suatu periode yang panjang dan berkelanjutan di mana mereka masih belum dapat berpikir (Mandler, 1990, 1992, dalam proses cetak, a, b). Bayi dapat belajar mengenal benda-benda dan tersenyum kepada benda-benda itu, merangkak, dan memanipulasi benda-benda, tetapi bayi belum memiliki konsep dan gagasan atas benda-benda itu. Piaget yakin bahwa ketika bayi mulai memasuki tahap akhir sensoris-motorik, pada kira-kira usia 1 hingga 2 tahun barulah bayi benar-benar belajar bagaimana mengenali dunia sekitarnya secara simbolis dan konseptual.
Pada teori perkembangan kognitif Piaget menyatakan bahwa anak secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif. Dua proses mendasari perkembangan tersebut: organisasi dan adaptasi. Untuk memahami dunia, kita mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kita. Menurut Piaget, perkembangan pemikiran dibagi ke dalam empat tahap yang secara kualitatif sangat berbeda, yaitu sensorimotor, praoperasional, operasional konkret dan operasional formal.

D.    Perkembangan Sosioemosional pada Masa Bayi
Sosialisasi Timbal Balik
Selama bertahun-tahun, sosialisasi antara orang tua dan anak-anak dipandang sebagai suatu proses satu arah. Anak-anak dianggap sebagai produk dari teknik sosialisasi yang diterapkan orang tua mereka. Sosialisasi timbal-balik (reciprocal socialization) ialah pandangan bahwa sosialisasi adalah proses dua arah, anak-anak bersosialisasi dengan orang tua sama seperti orang tua bersosialisasi pula dengan anak-anak. Misalnya, interaksi ibu dan bayinya di simbolkan sebagai suatu tarian atau dialog di mana tindakan-tindakan yang terjadi adalah hasil dari koordinasi pasangan secara harmonis. Tarian atau dialog yang terkoordinasi ini merupakan bentuk keselarasan timbal-balik (masing-masing pelaku bergantung pada perilaku pasangan sebelumnya). Ketika sosialisasi timbal-balik diteliti pada masa bayi, tatapan timbal-balik atau kontak mata ternyata memainkan peran yang penting dalam interaksi sosial awal (Fogel, Toda, & Kawai, 1988). Dalam suatu penelitian, ibu dan bayi terlibat dalam beragam perilaku ketika mereka melihat satu sama lain; sebaliknya, ketika mereka membuang pandangan satu sama lain, tingkat perilaku semacam itu menurun tajam sekali (Stern, dkk, 1977). Singkatnya, perilaku ibu dan bayi melibatkan keterikatan yang sangat mendasar, pengaturan timbal-balik, dan sinkronisasi.
Scaffolding menggambarkan suatu peran penting dari pengasuh bayi dalam     berinteraksi awal orangtua- anak. Melalui perhatian dan pilihan perilaku mereka, pengasuh memberi suatu kerangka di mana mereka berinteraksi. Salah satu fungsi scaffolding ialah untuk memperkenalkan bayi pada aturan-aturan sosial, khususnya pengambilan giliran (Bruner, 1989). Misalnya, dalam permainan cilukba, ibu pada mulanya menutup bayinya dengan kain, kemudian memindahkan kain, dan akhirnya menjadi “kaget” atas kemunculan kembali bayinya. Ketika bayi semakin terampil dalam permainan cilukba, balita mulai melakukan tutup-buka sendiri. Dalam suatu penelitian, bayi yang memiliki pengalaman scaffolding yang lebih ekstensif dengan orang tuanya, khususnya dalam pengambilan giliran, cenderung mau mengambil giliran ketika mereka berinteraksi dengan teman-teman sebayanya (Vandell & Wilson, 1988).

Keluarga Sebagai Suatu Sistem
Sebagai suatu sistem sosial, keluarga dapat dipandang sebagai suatu kumpulan subsistem yang didefinisikan dalam pengertian generasi, gender, dan peran. Pembagian tugas di antara anggota-anggota keluarga mendefinisikan subunit khusus, dan keterikatan satu sama lain mendefinisikan subunit lain. Setiap anggota keluarga adalah peserta di dalam beberapa subsistem- beberapa dyadic (yang melibatkan dua orang), beberapa polyadic (yang melibatkan lebih dari dua orang). Ayah dan anak merupakan satu subsistem dyadic, ibu dan ayah adalah subsistem dyadic lain, ibu-ayah-bayi merupakan satu subsistem polyadic, ibu dan dua anak kandung adalah subsistem polyadic lain (Belsky, Rovine, & Fish, 1989).

Perkembangan Emosi pada Masa Bayi
Bayi mengekspresikan sebagai emosi jauh lebih awal dibandingkan dengan beberapa emosi lainnya. Untuk menentukan apakah bayi benar-benar mengekspresikan emosi perlu diberikan rangsangan yaitu memberi bayi kutub es, menempelkan isolasi pada punggung tangan bayi, memberi bayi mainan kesukaannya dan kemudian mengambilnya, memisahkan bayi dari ibunya lalu mempertemukan mereka, menyuruh seorang asing mendekati bayi, mengekang kepala bayi, menaruh jam yang berdetik ke dekat telinga bayi, meetuskan balon di depan wajah dan memberi kamper untuk dibaui dan kulit jeruk asam serta jus jeruk untuk dikecap. Untuk memberi satu contoh saja tentang bagaimana emosi dikodekan, kemarahan diperlihatkan ketika alis bayi menurun secara tajam dan menyatu, mata menyempit atau mengedip, dan mulut terbuka dalam bentuk kaku dan persegi. Berdasarkan sistem klasifikasi Izard, minat, stres, dan rasa muak muncul pada saat lahir dan senyuman sosial tampak pada usia kira-kira 4 hingga 6 minggu. Kemarahan, keheranan, dan kesedihan terjadi pada usia kira-kira 3 hingga 4 bulan, ketakutan diperlihatkan pada usia kira-kira 5 hingga 7 bulan, rasa malu dan enggan diperlihatkan pada usia kira-kira 6 hingga 8 bulan, dan rasa hina serta rasa bersalah tidak muncul hingga usia 2 tahun.

Menangis
 Mekanisme yang paling penting yang dimiliki oleh bayi yang baru lahir untuk berkomunikasi dengan dunia mereka. Bayi memiliki sekurang-kurangnya tiga tipe tangisan: tangisan dasar, tangisan marah, dan tangisan rasa sakit. Kebanyakan orang tua, dan orang dewasa pada umumnya dapat menjelaskan apakah suatu tangisan bayi berarti kemarahan atau rasa sakit. Kontroversi masih berputar tentang apakah bayi harus dibujuk ketika mereka menangis. Semakin banyak jumlah ahli perkembangan mendukung gagasan Ainsworth dan Bowlby bahwa bayi yang sedang menangis harus direspons dengan segera pada tahun pertama kehidupan.

Tersenyum
Tersenyum ialah suatu perilaku afektif komunikatif yang penting oleh bayi. Dua tipe senyuman dapat dibedakan pada bayi refleksif dan sosial.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
v  Perkembangan fisik pada masa bayi akan terjadi secara sendirinya dan meliputi berapa tahap yaitu:
a.    Refleks
b.   Urutan Cephalocaudal dan Proximodistal
c.    Tinggi dan Berat
d.   Keterampilan Motorik Kasar dan Halus
e.    Otak
f.    Keadaan Bayi
g.   Gizi

v  Perkembangan motorik pada bayi meliputi beberapa tahap yaitu:
a.Keterampilan Motorik Kasar
              Jadi setiap bulan bayi itu memiliki peningkatan dalam motorik kasarnya, dia akan mencoba-coba sampai yang dikemampuinya.
               b. Keterampilan Motorik Halus
                Bayi mengalami kesulitan mengendalikan keterampilan motorik halus pada saat lahir, walaupun mereka memiliki banyak komponen penting yang kelak menjadi gerakan lengan, tangan, dan jari tangan yang terorganisasi dengan baik (Rosenblith, 1992).
v   Perkembangan Sosioemosional pada Masa Bayi
a.    Sosialisasi Timbal Balik
b.   Keluarga Sebagai Suatu Sistem
c.    Perkembangan Emosi pada Masa Bayi
d.   Menangis
e.    Tersenyum


B.     Saran
Setiap perkembangan pada masa bayi memerlukan perhatian khusus dari orang tua sehingga untuk itu peran orang orang tua sangat perlu sekali maka perlu memberikan perhatian yang menyeluruh pada anaknya. Sehingga bagi anak dapat perkembangannya secara maksimal.


DAFTAR PUSTAKA

Izzaty, Rita Eka, dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press
Santrock, John W. Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga